Rabu, 19 September 2012

Syed Sheikh bin Syed Ahmad Al-Hadi




Syed Sheikh bin Syed Ahmad Al-Hadi merupakan seorang penerbit, pemikir dan reformis yang tersohor dalam sejarah masyarakat Melayu. Beliau juga seorang personaliti yang pada zamannya sering diselubungi kontroversi. Ini mungkin kerana Syed Sheikh Al-Hadi adalah seorang yang jauh terkehadapan dalam pemikirannya di kalangan masyarakat pada awal abad ke-20.

Pendirian dan pemikirannya yang agak radikal barangkali telah terbentuk semasa pengembaraannya ke luar negara demi menimba ilmu. Beliau telah berkelana ke pelbagai negara dan wilayah seperti Mekah, Beirut dan akhirnya Kaherah, Mesir, di mana beliau telah berguru dengan Muhammad Abduh. Pengaruh tokoh reformis Islam dari Al-Azhar ini telah banyak mempengaruhi dan membentuk pemikiran Syed Sheikh Al-Hadi.
Sekembalinya dari Mesir, beliau telah menubuhkan Madrasah Al-Iqbal pada tahun 1907 di Singapura, Madrasah Al-Hadi (1915) di Melaka dan kemudiannya Madrasah Al-Mashoor (1926) di Pulau Pinang. Melalui sekolah-sekolah tersebut, khususnya Al-Mashoor di Pulau Pinang, beliau telah mewariskan citra pendidikan moden dan kefahaman Islam yang progresif.

Beliau bersama sahabat-sahabatnya juga telah menerbitkan majalah Al-Imam (1906), Al-Ikhwan (1927) dan akhbar Saudara (1928). Beliau juga giat menulis, dan antara penulisannya yang paling menarik kontroversi pada masa itu adalah Hikayat Faridah Hanum, iaitu sebuah karya yang mengisahkan tema emansipasi wanita, suatu gagasan yang sudah tentu telah menggegarkan lumrah pemikiran masyarakat Melayu 1920-an.

Salah satu rencana yang menulis mengenai tokoh tersohor ini secara agak teperinci ditulis oleh  http://padangkomunikasi.wordpress.com/  yang merupakan penulis dari seberang. 

A. Pendahuluan

Syed Sheikh bin Ahmad al-Hadi adalah tokoh yang tidak bias tidak harus dibicarakan apabila menyinggung tentang dakwah islamiyah dan sekaligus pembaharuan Islam pada awal abad ke XX di Malaysia. Keberaniannya melawan arus tradisional di kerajaan tersebut membuat ulama ini sangat dibenci oleh para ulama tradisional dan raja-raja Melayu. Akan tetapi setelah beliau meninggal dan telah berlalu puluhan tahun, jasa-jasanya selalu diungkit dan disebut-sebut telah membawa kemajuan umat Islam di Malaysia. Siapa dia dan bagaimana usahanya akan dijelaskan di bawah ini:

B. Syed Sheikh bin Ahmad al-Hadi

Syed Sheikh bin Ahmad bin Hasan bin Saqaf al-Hadi al-Ba’Alawi, seterusnya di sebut Syed Sheikh. Beliau merupakan salah seorang tokoh Kaum Muda yang memainkan peranan penting dalam usaha dakwah pada awal abad ke-20 di Malaysia khususnya dan di Nusantara pada umumnya. Siapa dia akan dijelaskan di bawah
1. Latar Belakang Peribadi
Syed Syekh bin Ahmad bin Hasan bin Saqaf al-Hadi al-Ba’Alawi yang lebih terkenal dengan nama Syed Syekh. beliau dilahirkan pada tanggal 22 Nopember 1867 M. di Kampung Hulu, Malaka. Ibunya Zulhijjah orang Melayu Malaka sedangkan ayahnya Syed Ahmad bin Hasan bin Saqaf al-Hadi al-Ba’alawi (1837-1895) Arab keturunan Hadhramaut yang menetap di Malaka (Abu Bakar Hamzah, 1991: 133), dengan demikian Syed Syekh sebenarnya adalah anak blasteran Melayu-Arab, (Alijah Gordon, 1999: 69-70).

Syed Sheikh dilahirkan pada hari Selasa petang 25 Rajab 1284 H bertepatan dengan 22 Nopember 1867 M. di Kampung Hulu, Malaka[i]. Malaka bisa dipandang sebagai kampung asal bagi Syed Sheikh di Nusantara, kerana ibunya Zulhijjah adalah orang Melayu Malaka. Sedangkan ayahnya Syed Ahmad bin Hasan bin Saqaf al-Hadi al-Ba’alawi (1837-1895) Arab keturunan Hadhramaut (Abu Bakar Hamzah, 1991: 133), juga kelahiran Kampung Hulu, Malaka. Apabila garis keturunan ayahnya (patrilinial) yang dijadikan sebagai pedoman, maka sebenarnya Syed Sheikh adalah berbangsa Arab keturunan Hadhramaut (Abu Bakar Hamzah, 1991: 133). Memang apabila diperhatikan sekilas wajah tokoh ini, dengan mudah dapat diketahui bahawa ia bukan pribumi, tetapi berasal dari Asia Barat. Nama Syed yang dipertahankan diujung namanya menunjukkan bangsa beliau, namun demikian lebih tepat kiranya apabila disimpulkan Syed Sheikh adalah anak campuran (Melayu-Arab) (Alijah Gordon, 1999 : 69-70), karena ibunya berbangsa Melayu.

Syed Sheikh, seperti juga keturunan arab yang lain, berusaha mempertahankan identitas ke-araban mereka dengan kawin sesama bangsa Arab, kecendrungan untuk kawin sesame bangsa sendiri mungkin sudah menjadi tabiat manusia, sampai sekarang hal seperti ini masih terjadi, baik di Malaysia maupun di Indonesia, baik bangsa Arab, India, Cina dan lain-lain. Maka sangat dipahami apabila Syed Sheikh pada tahun 1891 mempersunting adik sepupunya Sharifah Sheikhun yang berdarah Arab.

Istri beliau (Sharifah Sheikhun) adalah anak paling tua dari saudara ibunya Syed Muhammad bin Hasan al-Hadi. Dari perkawinan itu mereka memperoleh empat orang anak; Syed Alwi (l.1892), Ahmad (1896), Aisah (1897-1933) dan Umhani (l.1898-1931). Setelah itu ia menikah pula di Singapura dan untuk kali ketiga ia kawin pula dengan Sharifah Zainah al-Mashur. (Alijah Gordon, 1999 : 72).

Meskipun Malaka bisa dikatakan sebagai kampung Syed Sheikh, karena ibunya berasal dari sini dan ia juga lahir di sini, akan tetapi beliau hanya menjalani masa kanak-kanaknya di kota bersejarah ini, selanjutnya ia berpindah-pindah ke Pulau Penyengat Riau, Singapura, Pulau Pinang. Jadi proses sosial dan intelektual yang dilaluinya lebih banyak berada di luar kampungnya.

Riau bisa dipandang sebagai kampung kedua bagi Syed Sheikh, kerana di daerah ini beliau punya pengalaman sosial dan sekaligus intelektual yang berguna dalam membentuk pribadinya. Mulai dari masa kanak-kanak sampai masa remaja beliau tinggal di negri ini, dan pada waktu inilah ia menjalin hubungan persahabatan dengan berbagai lapisan masyarakat dan berbagai macam bangsa seperti Arab, Melayu, Minangkabau dan termasuk di antranya dengan umaro dan ulama. Hubungan dengan umaro terjadi dengan keluarga kerajaan Riau-Lingga, khususnya dengan Raja Ali Kelana bin Almarhum Yang Dipertuan Besar Raja Muhammad Yusuf al-Ahmadi (1809-1870) (William R. Roff, : 59-63, Abu Bakar Hamzah, : 133-138, Azyumardi Azra, : 187-192)[ii]. Status sosial menjadi jembatan bagi beliau untuk berkenalan dan berhubungan dengan pembesar-pembesar dan ulama-ulama yang datang berkunjung ke Kota ini. Hubungan sosial dengan kedua lapisan ini menjadi modal berharga dalam pembentukan nilai-nilai sosial dan intelektual peribadi Syed Sheikh setelah itu.

Dari penjelasan ini bisa diketahui bahawa Syed Sheikh adalah anak blasteran Arab-Melayu yang lahir di Malaysia, besar di Indonesia, bergaul dan menjalin komunikasi dengan kalangan umaro dan ulama yang berasal dari kedua negara.

2. Pendidikan
Pendidikan merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan seseorang dalam bidang yang diinginkannya. Latar belakang pendidikan Syed Sheikh memang meragukan, kalau yang dijadikan ukuran adalah pendidikan formalnya, karena tokoh ini tidak mendapat pendidikan sempurna. Tetapi mungkin beliau tidak bisa dinilai sepenuhnya dengan pendidikan formal semata. Untuk menelusuri proses intelektual Syed Sheikh perlu diketahui di mana dan kepada siapa saja tokoh ini menuntut ilmu pengetahuan.

Pendidikan formal Syed Sheikh berawal di Sekolah Melayu Straits Settlements di Malaka. Sekolah ini tentu saja tidak memberikan mata pelajaran agama karena urusan agama bukan urusan pemerintah (Inggris), meskipun demikian ini tidak bermakna mengecilkan manfaat pendidikan ini, karena belajarnya Syed Sheikh di sekolah ini sudah merupakan satu kesempatan yang tidak dimiliki oleh setiap orang Melayu. Untuk memperoleh pendidikan agama Syed Sheikh belajar ke pondok pasantren di Kuala Terengganu[iii]. Namun beliau tidak berhasil menyelesaikan studinya di pasanten itu, mungkin hanya satu dua tahun saja belajar di sana (Alijah Gordon, 1999: 72), kemudian dia diantar pulang ke Pulau Penyengat oleh saudara bapaknya Syed Muhammad Hasan al-Hadi[iv] yang menjadi wali murid Syed Sheikh selama belajar di Kuala Trengganu.

Berdasarkan kepada informasi di atas bisa diketahui bahawa Syed Sheikh adalah siswa yang mengalami masalah belajar, khususnya lingkungan belajar. Keberhasilan belajar siswa di sekolah sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya adalah faktor lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosio-emosional, salah satu faktor ini, yaitu lingkungan sosio-emosional Syed Sheikh terganggu karena terpengaruh oleh kawan-kawannya di luar pondok.

Ilmu pengetahuan tentu saja tidak diperoleh dari institusi pendidikan saja, di luar lembaga resmi, seseorang dapat memperoleh ilmu pengetahuan, seperti belajar kepada orang yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih tinggi, baik kepada orang tua, guru maupun sahabat. Proses pencarian ilmu secara non-formal ini memang lebih banyak pengaruhnya kepada Syed Shekh daripada formal. Di antara orang yang pernah menjadi guru non-formal Syed Sheikh ini adalah ayahnya.

Ayahnya, Syed Ahmad yang juga seorang ulama diketahui memberikan dasar-dasar pengetahuan agama kepada Syed Sheikh di rumah, di samping itu Syed Sheikh juga diberikan pelajaran bahasa Arab. Di samping untuk kegunaan mempelajari ilmu pengetahuan agama bahasa ini juga merupakan bahasa ibunda mereka. Sebagai orang Arab, ia menyadari pentingnya mewariskan bahasa ini kepada anaknya.

Selanjutnya pendidikan non-formal diperoleh Syed Sheikh ketika ia menjadi anak angkat Raja Ali (Alijah Gordon, 1999 : 70). Diketahui bahwa Raja Ali adalah keluarga kerajaan Riau Lingga di Pulau Penyengat Riau. Di samping umaro beliau jura ulama. Melalui beliaulah Syed Sheikh memperoleh pelajaran bahasa dan kebudayaan Melayu serta agama Islam. Bisa jadi karena pengaruh wibawa Raja Ali dan juga metode mengajarnya, memberikan kesan yang mendalam kepada Syed Sheikh sehingga kesempatan belajar itu dimanfaatkannya dengan sungguh-sungguh (Alijah Gordon, 1999 : 110).

Kesempatan untuk menuntut ilmu pengetahuan kepada beberapa ulama (Sohaimi Abdul Aziz, 2003 : 39)[v] yang menjadi tamu kerajaan Riau Lingga juga dimanfaatkan oleh Syed Sheikh. Melalui proses tanya jawab atau dialog sangat mungkin dilakukannya di saat para ulama beristirahat di mess tamu (rumah tetamu) yang dikawalnya. Para tamu memerlukan informasi dan Syed Sheikh pula memerlukan ilmu pengetahuan, jadi antara tamu dan pengawalnya saling memerlukan.

Syed Sheikh juga memperdalam pengetahuan agamanya melalui sahabatnya Sheikh Tahir[vi], kesempatan untuk bertanya, belajar, berdialog, bertukar fikiran, curhat dan lain-lain kepada seorang sahabat terbuka lebar, kapan dan dimanapun bisa dilakukan. Dengan demikian di samping menjalin hubungan persahabatan dengan Sheikh Tahir, ia juga sekaligus menjalin hubungan intelektual (Hamka, 1974: 170) hubungan persahabatan dan intelektual mereka berlangsung sangat lama, mulai mereka saling mengenal sampai Syed Sheikh meninggal dunia (1934). Bisa jadi karena hubungan intelektual itulah mereka saling bekerjasama, mulai dari menerbitkan dan mengelola majalah Al-Imam, Al-Ikhwan, Saudara dan mendirikan sekolah Al-Iqbal al-Islamiyah. Oleh karena itu pula apabila para sejarawan membicarakan Kaum Muda atau pembaharuan Islam di Malaysia, maka kedua tokoh ini (Sheikh Tahir dan Syed Sheikh) tidak bisa dipisahkan.

Pengalaman emperis di lapangan, memungkinkan sekali seseorang mendapat tambahan ilmu pengetahuan. Itu terjadi kepada Syed Sheikh ketika melakukan perjalanan ke Asia Barat pada tahun 1904[vii], apalagi pada saat itu Mesir yang menjadi salah satu tempat yang dikunjunginya sedang terjadi gerakan modenisasi pendidikan ala ‘Abduh.[viii] Kemungkinan besar, hasil dari pengalaman lapangan selama di Mesir itu di bawanya pulang ke Nusantara dan mengimplementasikannya dengan menerbitkan Al-Imam (1906), mendirikan sekolah al-Iqbal al-Islamiyah (1908) di Singapura dan termasuk mempelajari secara otodidak pemikiran-pemikiran ulama-ulama terkemuka seperti ‘Abduh, Rasyid Rida dan Qasim Amin, sehingga pengaruh itu  muncul dalam hasil karnyanya.

1.Terdapat perbedaan tanggal lahir Syed Sheikh, ada yang mengatakan tahun 1862 dan ada yang 1867. Abu Bakar Hamzah dan Wiliam Ruff mengemukakan tahun 1862, sedangkan Syed Sheikh sendiri menulis tahun kelahirannya dalam bukunya Kitab agama Islam dan ‘akal yang diterbitkan di Penang oleh Jelutong Press pada tahun 1931) tahun 1867. dalam hal ini penulis lebih memilih tanggalyang dibuat oleh Syed Sheikh sendiri, iaitu tahun 1867, karena ia langsung dibuat oleh sumber aslinya.
2.Dalam beberapa sumber dikatakan hubungan antara Syed Sheikh dengan saudara tiri Sultan dan juga Raja Muda Riau Lingga adalah hubungan anak angkat dengan ayah angkat, akan tetapi tidak sumber yang dapat menjelaskan mengapa Syed Sheikh bisa menjadi anak angkat Raja Ali Kelana dan tidak ada penjelasan yang memuaskan seberapa jauh hubungan anak angkat dengan ayah angkat tersebut.

3.Bagaimanapun Syed Sheikh tidak kerasan belajar di pondok ini. ia lebih banyak menghabiskan waktunya berkawan dengan keluarga istana daripada mengikuti pendidikan di pondok pasantren. (Alijah Gordon, 1999 : 70).

4.Saudara bapaknya Syed Muhammad Hasan al-Hadi, menetap di Kuala Trengganu, sangat logis apabila karena alas an saudara bapaknya tinggal di sana ia dikirim belajar ke pondok pasantren di tempat itu, meskipun Kelantan lebih dikenal sebagai pusat pendidikan Islam yang disebut sebagai “Serambi Mekah” di Malaysia. Apabila terjadi sesuatu dan memerlukan kehadiran keluarga, maka saudara bapaknya bisa mewakili ayahnya. Hal seperti ini sudah beliau lakukan dengan mengantar pulang Syed Sheikh ke rumah orang tuanya di Pulau Penyengat, Riau.

5.Termasuk gurunya adalah Haji Husin Palembangi dan Haji Saleh Minangkabawi. Tokoh-tokoh yang dikenal secara luas khususnya di Pulau Penyengat dan umumnya di Riau-Lingga. (Alijah Gordon, 1999 : 73, 110).

6.Dari penejelasan tentang pendidikan yang dilaluinya boleh disimpulkan bahawa pengajian yang dilaluinya tidak sesempurna pendidikan Sheikh Tahir, hal ini juga diakui oleh Syed Alwi, (Alijah Gordon, 1999 : 77).

7.Syed Sheikh pergi ke Timur Tengah bersama kerabat diraja, Engku Hasan Ibni Raja Ali Kelana, Tengku Othman, Engku Adam ibni Raja Ali Kelanda dan Raja Muhammad Said Ibni Raja Ahmad. Untuk maksud utama adalah pergi melaksanakan haji ke Mekah dan belajar ke Mesir. (Alijah Gordon, 1999 : xxi, 73).

8.Syed Alwi meragukan ayahnya betemu dengan ‘Abduh akan tetapi Syed Sheikh berpeluang menjalin hubungan yang baik dengan murid terkemuka ‘Abduh, iaitu Sheikh Rasyid Ridha. (Alijah Gordon, 1999 : 74).

by. sarwan